Abstrak
Hujan
Dulu, sewaktu
kecil, aku sangat senang ketika Hujan turun.
Selalu ada tawa
mengiringi kedatangannya. Berlari menuju hujan. Tertawa lepas sambil
berlari-lari kecil, menari memutar sembari mengembangkan baju layaknya tuan
Puteri.
Terkadang sendiri.
Terkadang berdua. Terkadang rame.
Pernah suatu ketika, saat sedang tertawa di bawah derasnya
hujan, bersama seorang Kakak, Ibu memergoki kami. Segera dia mendatangi sembari
membawa seikat sapu lidi, memarahi dan menyuruh kami untuk pulang.
Kami-kakak dan aku
masih punya waktu untuk saling berdebat tentang siapa yang salah. Saling menyalahkan
dan tentu tidak ingin disalahkan. Tapi kemudian kami tertawa kembali.
Masa kecil selalu
terasa menyenangkan sekaligus menyedihkan.
Menyenangkan karena
di masa ini semua terasa tanpa beban. Bermain sesuka hati, tertawa, tidak ada
marah dan sedih yang berkepanjangan.
Menyedihkan,
karena ada beberapa bagian yang aku benci. Namun, meski begitu, dia tetap bagian dari sejarah
hidupku, yang akan selalu dibaca, dikenang, tanpa harus berkomentar “Aku tidak
suka dengan bagian sejarah ini.”
Bagian itu tetap
menyumbang warna di dalam kanvas hidupku. Ibarat sebuah lukisan, dia tidak akan
terlihat indah jika hanya satu warna terang yang disapukan. Perlu beberapa
warna gelap untuk terlihat sempurna dan nyata.
Komentar
Posting Komentar