Postingan

Abstrak

Hujan Dulu, sewaktu kecil, aku sangat senang ketika Hujan turun. Selalu ada tawa mengiringi kedatangannya. Berlari menuju hujan. Tertawa lepas sambil berlari-lari kecil, menari memutar sembari mengembangkan baju layaknya tuan Puteri. Terkadang sendiri. Terkadang berdua. Terkadang rame. Pernah suatu ketika, saat sedang tertawa di bawah derasnya hujan, bersama seorang Kakak, Ibu memergoki kami. Segera dia mendatangi sembari membawa seikat sapu lidi, memarahi dan menyuruh kami untuk pulang. Kami-kakak dan aku masih punya waktu untuk saling berdebat tentang siapa yang salah. Saling menyalahkan dan tentu tidak ingin disalahkan. Tapi kemudian kami tertawa kembali. Masa kecil selalu terasa menyenangkan sekaligus menyedihkan. Menyenangkan karena di masa ini semua terasa tanpa beban. Bermain sesuka hati, tertawa, tidak ada marah dan sedih yang berkepanjangan. Menyedihkan, karena ada beberapa bagian yang aku benci. Namun, meski   begitu, dia tetap bagian dari sejarah hidupk...

Sobat Dekat

Gambar
Merasa dekat tidak perlu bercanda dengan merusak mental. Kita masih tetap dekat dengan saling menghargai. Dan akan semakin dekat dengan saling memahami. Terkadang, kita masih belum faham tentang bagaimana dia bersusah payah membangun kepercayaan dirinya, lalu dengan mudah kamu rusak mentalnya hanya dengan dalih “bercanda”. Aku tidak setuju dengan ucapan yang mengatakan bahwa “Sobat dekat itu, udah gak kenal kata ‘Maaf, Tolong dan Terimakasih’.” Bagiku, hubungan yang tidak bisa saling memahami dan menghargai hanya akan memupuk emosi negatif dalam bejana jiwa. Karena faktanya, penyumbang terbesar luka batin seseorang adalah orang-orang terdekat. Jadi, jika kamu adalah orang terdekatku dan bersikukuh untuk percaya apa kata orang tentang definisi sobat itu bla bla bla. Silahkan. Tapi mohon maaf, aku rasa, aku harus berjalan mundur dan keluar dari lingkaran pertama  hidupmu. Aku tidak mau merusak diri sendiri dengan terus bertahan dalam Toxic Relationship . “Tapi kena...

Bapak

  Aku tidak sempat bertanya tentang apa yang kamu rasa, tentang apa yang pernah kamu alami di masa lalu. Mungkin, ada luka yang Bapak simpan lalu bimbang untuk bagaimana mengutarakan dan mengekspresikan luka itu dengan baik. Mungkin, yang Bapak bisa saat itu hanya menyalurkan luka dengan berpikir sedikit egois dan keras kepala, hingga tanpa sadar meneruskan luka tersebut pada sekitar, terkhusus Makhluk yang sebenarnya Bapak kasihi yaitu pasangan dan anak-anak. Aku ingin tahu, seberapa dalam luka itu, Pak? Seandainya aku tidak terlambat tahu, aku ingin menyembuhkan luka itu, dengan satu hal paling indah bernama cinta, yang sebenarnya akupun masih meraba, apa itu cinta? Karena seperti yang Bapak tahu, ‘cinta pertama’ku pernah melukaiku.   Tapi jangan khawatir, aku bisa belajar. Belajar memberi cinta tanpa menginginkan untuk mendapatkan nya kembali. Karena aku tahu, akan ada selalu cinta untuk orang yang tulus mencinta. Sekarang aku paham, selama ini hatimu kosong, keri...

Pertemuan

Selalu ada makna dari setiap pertemuan. Allah selalu Maha Baik. Allah selalu Maha Romantis untuk menegur hamba-Nya. Kenapa tidak? Dia pertemukan aku dengan seorang anak kecil bernama Muna. Dia seorang pemulung. Dari pertemuan tersebut, aku sempat bercakap-cakap ringan. Setidaknya, membantu melepas penatnya dunia dengan tertawa bersama. Dari percakapan itu, aku tahu bahwa Muna orang yang mandiri, kuat, sederhana dan penuh syukur. Kenapa tidak? Dengan nasibnya yang malang menurut kacamata Manusia, dia enggan untuk mengeluh. Dia tetap bersyukur dan menikmati harinya, meski lelah pasti dia rasa, tapi ku lihat tidak ada raut kecewa di wajahnya. Dengan usia yang begitu belia, dia ditempa kehidupan, dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya   dan mandiri. Mungkin, Rabb ingin aku tahu dengan begitu jelas dan nyata , bahwa masih ada orang yang hidupnya tidak seberuntung aku, namun dia tetap kuat dan senang hati untuk berjuang dan bertarung dalam kehidupan. Karena dia tahu, b...

Selamat Tinggal Duka di (2019)

Gambar
Selamat Tinggal Duka di (2019) Aku memang tidak diberi kemampuan untuk memilih siapa yang akan tetap tinggal, siapa yang akan dibiarkan pergi. Aku tidak diberi kemampaun untuk memilih siapa yang akan menjadi pecinta dan tentu saja memilih untuk tidak punya pembenci. Aku tidak diberi kemampuan untuk mengulang waktu. Tapi, dari ketidakmampuan ini, aku belajar menjadi makhluk yang lebih berani untuk #beranibilangjujur dengan apa yang dirasa; aku belajar   menjadi   baik tanpa membinasakan diri sendiri; aku berani mengambil sikap untuk siap tidak disukai, karena dalam hidup, tidak semua orang mampu menyukai apa yang aku lakukan. Tahun 2019 adalah tahun yang menguras begitu banyak rasa sedih, duka dan luka. Tapi, tanpa ‘mereka’ aku tidak akan pernah tau siapa yang sunggh tulus berinteraksi dan siapa orang yang   berpura-pura. Terimakasih untuk orang yang tetap bertahan untuk membersamai segala duka, kalian luar biasa, kalian akan menjadi sejarah yang akan selalu di...

HEI!

Hei kamu! Kamu yang aku panggil teman Kamu yang aku panggil sahabat kamu yang aku panggil kerabat Kamu yang aku panggil belahan hati Aku ingin hubungan kita ada bukan karena materi, bukan karena uang, bukan karena apa yang kamu lihat dariku. Tapi hubungan kita ada karena ikatan emosional yang ada antara aku dan kamu. Ikatan yang terbangun karena ketulusan antara aku dan kamu. Ikatan yang membangun rasa sayang antara aku dan kamu. Tidak karena hal lain. Karena kamu tahu? Menyakitkan saat ditinggalkan oleh seseorang hanya karena kita sudah tak punya kualitas dari apa yang dia harapkan.

Mencintai Diri Sendiri?

Gambar
Mencintai diri sendiri? Sering ku dengar istilah itu, berterbangan di media sosial. Kadang sering kuucapkan sendiri istilah tersebut, untuk menguatkan diri sendiri juga orang yang kebetulan mendengarnya dari mulutku. Namun, perasaan galau pernah hinggap di bagian atas tubuhku, memberi sebuah pertanyaan yang jawabannya masih aku bingungkan. Apa aku sudah melakukannya dengan benar? Apa aku sudah mencintai diriku sendiri secara sempurna? Sudah mampukah aku berdamai dengan hal-hal yang membuatku merasa ‘kurang’? Sudahkah aku memberi kepercayaan pada diriku sendiri? Terkadang, aku masih sempat terluka oleh hal-hal kecil. Aku masih memberi ruang diri untuk melukai dirinya sendiri dengan cara mengizinkan ‘sampah’ untuk masuk ke dalam pikiran. Terkadang, aku masih ‘mengizinkan’ orang lain untuk mengendalikan kebahagiaanku. Terkadang, aku masih merasa ‘kecil’ saat berhadapan dengan seseorang yang menurutku ‘besar’. Terkadang, aku masih menginginkan untuk menjadi...