Paulo Freire dan Teori pemikirannya tentang Pendidikan
1. Riwayat Hidup Paulo Freire
Freire adalah seorang tokoh pendidikan Brasil dan teoritikus pendidikan yang berpengaruh di Dunia. Lahir di Recife, Brasil, 02 Mei 1997 pada umur 75 tahun. Dia adalah seorang katolik.Freire lahir dari keluarga kelas menengah. Namun, pada tahun 1929 krisis ekonomi melanda Brasil. Orangtuanya terkena imbas krisis itu dan mengalami kejatuhan finansial yang sangat hebat. Akibat kondisi seperti itu, Paulo Freire terpaksa belajar mengerti apa artinya menjadi lapar.
Freire kuliah di Universitas Recife pada Fakultas Hukum. Dia juga belajar filsafat dan psikologi nahasa sambil menjadi guru paruh waktu bahasa portugis di karya-karya di bidang yang diminati tersebut. paulo pernah menjadi direktur bagian pendidikan dan kebudayaan SESI (pelayanan sosial) di negara bagian pernambuco. paulo mendapatkan gelar di univerrsitas recife pada tahun 1959. paulo mendapatkan undangan dari amarika untuk tenaga ahli pusat study pembangunan dan perubahan sosial serta guru besar tamu di pusat study pendidikan dan perkembangan universitas harvard
pada 1961, ia diangkat sebagai direktur dari departemen perluasan budaya dari universitas recife. freirepun sempat bekerja di chili selama lima tahun untuk gerakan pembaruan agraria demokratis kristen.
freire pindah ke jenewa, swiss untuk bekerja sebagai penasihat pendidikan khusus dewan gereja-gereja se-Dunia.
pada 1979 ia kembali ke brasil. freire bergabung dengan partai buruh brasil dan bertindak sebagai penyedia untuk proyek melek huruf dewasa dari tahun 1980 sampai 1986.
2. Teori Paulo Freire
amerika saat itu tengah dilanda banyak huru-hara, mulai dari bentrokan-bentrokan rasial merebak sejak 1965 sampai oposisi terhadap keterlibatan pemerintah AS dalam perang di asia. keadaan tersebut sangat mempengaruhi freire. dia melihat gejala dikucilkannya orang-orang yang tak berdaya, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya maupun politik. bukan hanya monopoli dunia ke tiga.lewat pengalamannya (saat mengalami kemiskinandan kelaparan) dan kepekaan dirinyapada situasi itu membentuk keprihatinannya terhadap kaum miskin dan ikut membangun pandangan dunia pendidikannya yang khas. freire memberikan penekanan yang kuat tentang perlunya memberikan penduduk pribumi pendidikan yang baru dan modern, juga anti kolonial.
pendidikan harus dapat menyadarkan kaum tertindas aar mempunyai kesadaran kritis. bagi freire, sistem pendidikan justru harus menjadi kekuatan penyadar dan pembebas umat manusia.
paulo freire menggolongkan kesadaran manusia menjadi tiga:
1. kesadran magis (semi intransitif)
kesadran magis adalah individu yang tidak melawan atau mengubah realitas hidupnya, mereaka justru menyesuaikan diri dengan realiltas yang ada. mereka, menyalahkan penguasa dan menyerahkan nasib di tanagn pemimpin, orang-orang tidak mampu melihat kebenaran yang mendasar bahwa kehidupan tidak pernah berubah
2. kesadaran naif
pada tingkat kesadaraan ini, individu sudah mengetahui penyebab keadaan tertindas itu. namun mereka belum mau beraksi. mereka menyederhanakan masalah dengan menimpakan masalah kepada individu lain, bukan kepada sistem sebenarnya. mereka sudah mengetahui apa yang ideal terjadi namun belum ada aksi nyata. mereka memiliki kecenderungan berkelompok dan beradu mulut dari pada berdiskusi.
3. kesadaran kritis
pada tingkat kesadaran ke tiga ini, orang mampu menafsirkan secara ,endalam permasahan yang dihadapinya. orang sudah mengetahui penyebabnya, tidak menyalahkan individu lagi dan lebih mengedepankan dialog dari pada beradu mulut saling menampakan kesalahan. orang-orang pada tingkat kesadaran kritis, tidak mau menyeruapi penindas, mereka mempertahankan entitas mereka, menjadi sendiri sebagai orang jujur dan unik terhadap tradisi dan kebudayaan yang dimiliki.
selain tiga tingkat kesadaran tersebut, freire memperkenalkan pula adanya kesdaran fanatik, yaitu distorsi yang terletak diantara kesadaran magis dan kesadaran kriris.
3. Implikasi teori Paulo Freire dengan praktik pendisikan masa kini
Teori freire memberikan alternatif atas kebuntuan yang melanda praktik pendidikan di seanteto dunia. Freire mengambil ide pembebasan dan mengkombinasikan dengan apa yang disebut "bahasa kritis". Teori pendidikan pembebasan freire berhasil membongkar praktik-praktik pendidikan mapan yang selama ini dianut oleh sebagian besar negara-negara di dunia (termasuk Indonesia), di mana praktik pendidikan tersebut hanyalah melanggar dominasi kekuasaan dari kelas yang berkuasa.Teori pendidikan freire menjadi rujukan dan diadopsi oleh banyak lembaga pendidikan di beberapa Negara, juga beberapa lembaga pendidikan di indonesia yang menganut metode pendidikan partisipatoris.
Dan seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa Freire hidup dalam nuansa dan fenomena penindasan terhadap masyarakat bawah. Kondisi tersebut melatarbelakangi lahirnya teori tentang tigkat kesadaran. Pada masing-masing tingkat terdapat implikasinya dengan pendidikan masa kini, khususnya di Indonesia
Ditingkat pertama , yaitu kesadaran magis, di mana orang tidak mampu mengaitkan faktor yang satu dengan yang lain. Sehingga cenderung menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Kesadaran macam ini akan mengarahkan pada pelaksanaan pendidikan yang bergaya bank. Pengetahuan diumpakan sebagai barang jadi yang siap diberikan kepada siswa. Siswa hanya menerima dengan serta merta apa yang diberikan duru dan mematuhi seluruh instruksi guru. Tidak ada proses dialog yang terjalin antara guru dengan siswa, sehingga siswa tidak merasa bahwa sesungguhnya ai tertindas.
Ditingkat kesadaran kedua, siswa sudah mengetahui bahwa apa yang dikatakan guru tidak selalu sesuai dengannya, tetapi siswa belum mau bertindak atau berusaha untuk mematahkan pendapat guru. Di sini siswa sudah mengetahui idealnya atau bagaimana seharusnya, namun belum ada aksi nyata.
Freire mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang unik dibandingkan makhluk yang lain. Manusia adalah subyek aktif, bukan obyek yang bisa dieksploitasi.
Ditingkat kesadaran yang ke tiga, siswa secara sadar mengubah atau mengganti sistem yang menindas menjadi sistem yang adil dan bisa mereka kuasai. Penyaaran ini berupaya membentuk peserta didik agar bisa melakukan analisis reflektif, baik di lingkungan sekolah, dalam proses belajar mengajar, maupun di lingkungan luar sekolah. Di sini siswa bebas untuk mengmukakan apa yang mereka anggap benar sesuai keadaan yang terjadi di sekolah. Guru tidak bisa bertindak sesuka hati mereka karena siswa tidak memiliki pandangan sendiri terhadap keadaan yang mereka hadapi. Jika guru bertindak otoriter pada siswa pada saat proses pembelajaran, siswa berani mengeluarkan pendapat yang mereka anggap benar sebatas yang diketahui siswa. Dalam kesadaran ini terjadi proses dialog antara guru dan siswa sehingga siswa merasa dihargai. Seperti yang twlah dijelaskan pada bagian awal bahwa pendidikan ini merupakan kontradiksi atau bentuk perlawanan dari pendidikan gaya bank.

Komentar
Posting Komentar