Tiap orang punya ceritanya masing-masing
|
|
Aku
masih punya cita-cita yang perlu untuk dicapai, ingin meneruskan sekolah ke
sebuah PTN terkenal, tapi karena perusahaan milik ayahku bangkrut, aku tidak
bisa berharap besar. Karena bingung harus berbuat apa. Bekerja aku belum mampu,
kuliah pun tidak ada biaya. Di tengah kebuntuan, aku diajak oleh seorang teman
untuk masuk suatu komunitas yang mebanpung orang-orang berharapan tinggi sepertiku.
Singkat cerita setelah masuk komunitas, hari-hari berlalu, pengumuman pun tiba,
aku menndapat kabar duka. Aku tidak lolos masuk PTN yang diinginkan, namun aku
tidak mau menyerah sampai disitu, aku coba ikut ujian mandiri, ke berbagai PTN
lain yang masih membuka pendaftaran, sampai aku rela pergi ke salah satu PTN
yang ada di purwokerto, jawa tengah. Karena fikiranku saat itu, aku harus
kuliah, bodo amat di PTN manapun, yang penting dapet beasiswa. Juga aku
menghindari dijodohkan oleh keluarga. Tahun pertama gagal, oke! Tidak masalah,
aku menyadari kegagalan itu memang aku sendiri yang buat, aku jarang sekali
berikhitar untuk mendapati yang diinginkan. Juga saat itu aku memang agak
sedikit berjarak dengan Alloh, ibadah kurang, ngaji juga kurang. Shit lah
pokonnya.
Tahun
ke duapun datang, aku mencoba kembali untuk ikut test masuk perguruan tinggi,
dengan belajar dari kesalahan masalalu, aku mulai agak mendekatkan diri pada
Alloh, mulai dari rajin shaum, dhuha, shalat tepat waktu, ngaji, belajar sedikit-sedikit,
meski perlu diakui, aku belajar hanya saat min-3 bulan sebelum ujian datang.
Kalo ditanya, lalu waktu selama seetahun itu, kamu ngapain aja? Jawabannya
adalah, gue males. Ya, gue males banget belajar.
Saat-saat
yang ditunggu tiba, dan saat diumumkan, kamu tau? Jeng jenggggg ... aku lolos
disebuah PTN yang berada di pulau sebrang, Sumatera. Awalnya keluarga tidak
menyetujui aku untuk kuliah, selain kendala biaya juga kendala internal. Ibu
dan ayahku sudah sakit-sakitan dan butuh perawatan juga perhatian dari
anak-anak. Dan yang menjadi korbannya seelalu aku, dulu aku seempat berfikir,
kenapa harus selalu aku yang menjaga dan mengurus ayah – ibu, anak-anak ibu kan
banyak, kenapa harus selalu aku? Aku juga punya cita-cita, aku juga punya masa
depan, aku ingin bebas, aku ingin merangkai masa depan ku sendiri, dengan
usahaku sendiri, jika yang mereka masalahkan adalah biaya, aku tidak apa-apa.
Toh aku sudah dapat beasiswa dari kampusku. Sampai akhirnya, dengan berat hati,
ibu mengizinkan. Satu hari sebelum hari pemberangkatan dari perantauan, salah
seorang kakak ku sempat bertanya, “Mir, kamu yakin mau berangkat? Kamu gak
kasihan sama ibu?” “yakinlah, ibu kan ada kakak yang jaga, lagipula aku juga
punya masa depan yang harus dirangkai, aku gak mau terus merepotkan kakak, toh
kalau aku sudah sukses nanti, ini juga kan untuk ayah dan ibu” jawabku ketus.
Singkat
cerita, aku sudah berada di Sumatera, memulai hari baru di tanah orang dengan
kultur dan kebiasaan yang berbeda, untungnya aku bisa segera menyesuaikan diri.
Di sana aku mendapat banyak teman, juga memiliki satu geng yang terdiri dari
lima orang. Kami sangat kompak, di sana aku merrasa sangat senang, aku mendapat
pengalaman yang tidak aku dapatkan di tanah sendiri. Rasanya asyik sekali
seetelah aku menginjak masa-masa kuliah tahun pertama, sesekali aku teringat
ibu di rumah. Tiap aku rindu, aku selalu ingin pulang.
Akhirnya
aku menjadwalkan untuk pulang kampung. Saat tiba di kampung halaman, aku
disambut oleh ibu dan kakak juga keponakan kecilku, tapi tiap aku pulang,
selalu diakhiri oleh pertengkaran antara aku dan ibu. Aku jadi berfikir,
menyesal pulang, tau begitu aku diam saja di kost. Dan tiap pulang kampung
selalu begitu, aku jadi malas dan selalu meyakinkan diri, gak papalah gak
pulang, toh di rumah ada kakak yang bisa jagain ibu.
Hari,
minggu dan bulan pun berlalu, tidak terasa aku sudah menginjak masa satu tahun
kuliah. Libur semester genap pun tiba, aku pulang kampung ke Bandung. Saat
melihat kondisi ibu yang semakin parah, aku jadi terenyuh dan mulai menimbang
untuk berhenti kuliah saja atau setidaknya mengambil cuti untuk fokus
merawatnya. Hari-hari liburanku dihabiskan untuk menemani ibu keluar masuk
rumah sakit. Aku jadi terbiasa suasana rumah sakit, bau rumah sakit, hafal
piket dokter dan lain sebagainya.
Pada
saat itu, ibu masih tinggal disalah seorang kakak, tiba-tiba dia berkata “Mira,
ibu rindu rumah. Ibu ingin pulang, ibu tidak betah. Kamu kan lagi libur,
sementara kita pulang dulu. Lagipula ibu ingin meningal di sana.” “hush, ibu
ngomong apa sih. Gak usah ngomong gitu”. Demi membuat ibu senang, akhirnya aku
putuskan untuk pulang ke rumah. Setelah satu tahun meninggalkan rumah, rasanya
rindu juga.
Hari
demi hari, ibu semakin parah. Juga seemakin manja dan sangat membuat jengkel. Tiap
ibu menjengkelkan, aku selalu berfikir untuk menyerah dan mengirimnya lagi ke
rumah kakak, tapi aku selalu berfikir ulang. Semakin lama akupun jadi sering
memarahai ibu, membuat kesal dan jengkel bahkan sering membuat nya menangis dan
merasa tak berdaya. Aku sedih saat itu, aku belum bisa berfikir jernih, aku
masih selalu bersikap kanak-kanak untuk menghadapinya. Singkat cerita, di hari
sabtu, ada kakak nomor 6 dan nomor 3 datang berkunjung, di sana aku merasa
manja dan kebetulan saat itu kondisi badanku sedang tidak bagus. Tidak biasanya
aku ingin tidur di ranjang bersama ibu sambil memeluknya, sambil memintaa
dipijat olehnya. Ketika waktu sudah menunjukan sore, kakakku pamit pulang, tapi
tidak biasanya juga ibu meminta mereka untuk menginap. Kakak menolak dengan alasan
besok anaknya harus belajar untuk ujian.
Saat
malam, aku merasa sakit badan dan tidak enak tidur. Aku mendengar ibu menangis
menahan rasa sakit sambil memanggil nama kakak nomor satu. Yang ada difikiranku
saat itu hanyalah rasa sakit di badanku, aku memarahi ibu dan tidak berempati
padanya. Dia terrus menangis sambil memanggil nama kakak. Sesekali dia
membangunkanku untuk buang air besar. Tapi saat aku bangun, selalu tida jadi.
Dan itu terrulang sampai beberapa kali di satu malam itu, aku kesal. Sampai
subuh tiba, ibu membangunkanku lagi untuk buang air besar, aku membantunya
dengan masih disetai rasa kesal, aku pun sempat memarahinya lagi. Namun saat
hendak diberrsihkan, ibuku seperti selalu melihat pada satu arah yang sama, aku
curiga tapi aku takut untuk mengakui. Setelah selesai dibersihkan, aku melihat
ibu seperti sesak sambil terus menatap ke satu arah yang sama, tanpa berkedip.
Aku mulai merasa takut dan gemetar, aku terus menyadarkan ibu namun masih saja
begitu. Aku takut, aku menangis sambil memeluknya, dan tiba-tiba dia berhenti
sesak sambil terus seperti menatap sesuatu. Aku bangunkan dia dan coba
menyadarkannya, sama sekali tak bergeming,
aku mulai menangis sambil mencoba meminta bantuan pada tetangga. Saat tetangga
mengecek, dia bilang bahwa ibuku sudah tidak ada. Sungguh sangat menyakitkan
saat itu, aku menangis tersedu-sedu, sakit hati dan bersalah. Adegan demi
adegan di masa saat terakhir aku bersama, terkenang. Aku menyesal kenapa aku tidak sadar, bahwa
sebenarnya itu adalah pesan perpisahan darinya. Dia sempat bertanya, mau di
mana aku saat ibu pergi? Mau jadi apa aku setelah lulus kuliah? Dan lain
sebagainya.
Setelah
kepergian ibu, aku tinggal bersama kakak. Tidak diizinkan untuk tinggal sendiri
di rumah peninggalan ibu. Aku selalu melamun dan tiba-tiba menangis. Akhirnya
kakakku menyuruh untuk kuliah kembali, karena masih ada waktu untuk membatalkan
cuti kuliah, agar aku bisa sedikit terobati dengan adanya kegiatan. Namun aku
menolak, aku sudah tidak memiliki gairah untuk kuliah di Sumatera, aku merasa
kosong, hampa. Setelah menimbang, aku memutuskan untuk kuliah di salah satu
sekolah tinggi agama di Bandung.
Hari
pertama masuk, biasa saja, selanjutnya, setelah sekarang satu semester ku lalui, aku mendapatkan begitu banyak
pengalaman, terutama pengalaman hidup. Di sini, aku mulai bisa berfikir jernih,
bahwa ternyata hidup memang harus dimasuki rasa pahit, agar aku bisa lebih dewasa,
agar aku bisa membedakkan rasa manisnya kehidupan. Sedikit-sedikit, aku mulai
mengerti tentang hidup, bahwa hidup hanya akan berpihak pada orang-orang yang
positiv, juga aku berfikir mungkin Alloh rindu pada doa-doa ku yang tulus,
makanya dia mengirim begitu banyak kesakitan dalam hidup. Alloh ingin menjadikanku
makhluk yang indah mempesona. Alloh ingin membangunkanku dari kepahitan hidup
dan memberiku petunjuk untuk beranjak. Alloh ingin aku menjadi sebaik-baiknya
hamba dan perasaan dan fikiran yang damai tanpa dikotori kegalauan dan
kesedihan yang terus-menerus. Juga, Alloh mengirimkan begitu banyak orang baik
di dalam hidupku. Alloh memngirimkan orang yang bisa mencintaiku dengan tulus. Karena
aku tahu, Alloh mencintaiku. Terimakasih tuhan, Engkau memang sangat baik.
Dan kamu tahu? Aku menangis saat menulis ini.
(Bandung, 25
Februari 2018) jam 07.56
masya'allah gue suka cerita lo :)
BalasHapusThankyouu ��
Hapus