Tiap orang punya ceritanya masing-masing


Tiap orang punya ceritanya masing-masing




Aku dibesarkan dari keluarga yang bisa dibilang cukup dalam hal materi, namun ternyata, itu semua tidak menjamin menghasilkan keluarga yang akur dan rukun. Aku anak ke sepuluh dari sepuluh bersaudara, ayah ku seorang yang sangat tegas dan bisa dibilang cukup galak, dia tidak segan-segan marah dan mengeluarkan emosinya ketika dia merasa marah, tidak peduli ruang, tempat dan waktu. Pernah suatu ketika dia memarahaiku di depan pamanku hanya karena aku salah meracik kopi, yang seharusnya kumasukan gula, malah aku masukan garam. Ya, begitulah ayahku. Dan ibuku, dia adalah seorang wanita yang kuat menurutku, bagaimana dia tidak kuat? Dia bisa bertahan hidup dengan seorang pria pemarah seperti ayahku, dia juga yang menjadi tulang punggung keluarga saat ayahku sudah tidak lagi mau bertanggung jawab soal urusan nafkah. Ohiya, aku adalah anak satu-satunya yang disekolahkan di taman kanak-kanak. Perlu diketahui, saat TK aku adalah anak yang sangat perlu dikasihani, kenapa tidak? Aku menjadi anak yang bisa dibilang paling bodoh diantara yang lainnya, pendiam, dan tidak punya banyak teman. Lanjut Sekola Dasar, saat kelas satu dan dua aku masih memnyandang predikat anak bodoh. Sampai tiba suatu saat, di kelas tiga semester genap, ketika hari pembagian raport tiba, aku mendapat suatu kejutan, aku mendapat peringkat ke sepuluh. Wow, suatu pencapaian yang luar biasa menurutku, di sanalah dimulai sepak terjangku. Setelah hal ajaib itu terjadi, aku menjadi anak rajin, semakin lama munculah aura bintangku. Selain itu, aku juga sangat suka menggambar dan menurut teman-teman, hasil gambar ku sangat bagus. Aku jadi bercita-cita ingin menjadi seorang pelukis terkenal saat itu.  Masa-massa SD ku habis dengan prestasi, kemudian lanjut pada pemilihan sekolah setelah lulus SD. Awalnya aku berminat masuk salah satu SMP favorit di tempatku, karena kebetulan nilai ku saat itu memang memenuhi syarat. Namun, keluargaku tidak menyetujuinya, mereka menginginkan aku belajar agama. Akhirnya dengan terpaksa aku menuruti kemauan itu. Karena aku masuk dengan keterpaksaan, akhirnya gairah belajarku menghilang, aku berubah 180 derajat. Menjadi Mira yang baru, Mira yang pemalas, Mira yang jutek, Mira yang antisosial, Mira yang minderan. Ditambah keadaan keluarga yang berantakan, sempat terpikir bahwa aku rindu masa-masa Sekolah Dasar yang penuh dengan prestasi. Masa SMP dan SMA aku tinggalkan dengan tidak meninggalkan jejak yang berarti, seperti buih, setelah lullus aku hilang ditelan SEEJARAH.
Aku masih punya cita-cita yang perlu untuk dicapai, ingin meneruskan sekolah ke sebuah PTN terkenal, tapi karena perusahaan milik ayahku bangkrut, aku tidak bisa berharap besar. Karena bingung harus berbuat apa. Bekerja aku belum mampu, kuliah pun tidak ada biaya. Di tengah kebuntuan, aku diajak oleh seorang teman untuk masuk suatu komunitas yang mebanpung orang-orang berharapan tinggi sepertiku. Singkat cerita setelah masuk komunitas, hari-hari berlalu, pengumuman pun tiba, aku menndapat kabar duka. Aku tidak lolos masuk PTN yang diinginkan, namun aku tidak mau menyerah sampai disitu, aku coba ikut ujian mandiri, ke berbagai PTN lain yang masih membuka pendaftaran, sampai aku rela pergi ke salah satu PTN yang ada di purwokerto, jawa tengah. Karena fikiranku saat itu, aku harus kuliah, bodo amat di PTN manapun, yang penting dapet beasiswa. Juga aku menghindari dijodohkan oleh keluarga. Tahun pertama gagal, oke! Tidak masalah, aku menyadari kegagalan itu memang aku sendiri yang buat, aku jarang sekali berikhitar untuk mendapati yang diinginkan. Juga saat itu aku memang agak sedikit berjarak dengan Alloh, ibadah kurang, ngaji juga kurang. Shit lah pokonnya.
Tahun ke duapun datang, aku mencoba kembali untuk ikut test masuk perguruan tinggi, dengan belajar dari kesalahan masalalu, aku mulai agak mendekatkan diri pada Alloh, mulai dari rajin shaum, dhuha, shalat tepat waktu, ngaji, belajar sedikit-sedikit, meski perlu diakui, aku belajar hanya saat min-3 bulan sebelum ujian datang. Kalo ditanya, lalu waktu selama seetahun itu, kamu ngapain aja? Jawabannya adalah, gue males. Ya, gue males banget belajar.
Saat-saat yang ditunggu tiba, dan saat diumumkan, kamu tau? Jeng jenggggg ... aku lolos disebuah PTN yang berada di pulau sebrang, Sumatera. Awalnya keluarga tidak menyetujui aku untuk kuliah, selain kendala biaya juga kendala internal. Ibu dan ayahku sudah sakit-sakitan dan butuh perawatan juga perhatian dari anak-anak. Dan yang menjadi korbannya seelalu aku, dulu aku seempat berfikir, kenapa harus selalu aku yang menjaga dan mengurus ayah – ibu, anak-anak ibu kan banyak, kenapa harus selalu aku? Aku juga punya cita-cita, aku juga punya masa depan, aku ingin bebas, aku ingin merangkai masa depan ku sendiri, dengan usahaku sendiri, jika yang mereka masalahkan adalah biaya, aku tidak apa-apa. Toh aku sudah dapat beasiswa dari kampusku. Sampai akhirnya, dengan berat hati, ibu mengizinkan. Satu hari sebelum hari pemberangkatan dari perantauan, salah seorang kakak ku sempat bertanya, “Mir, kamu yakin mau berangkat? Kamu gak kasihan sama ibu?” “yakinlah, ibu kan ada kakak yang jaga, lagipula aku juga punya masa depan yang harus dirangkai, aku gak mau terus merepotkan kakak, toh kalau aku sudah sukses nanti, ini juga kan untuk ayah dan ibu” jawabku ketus.
Singkat cerita, aku sudah berada di Sumatera, memulai hari baru di tanah orang dengan kultur dan kebiasaan yang berbeda, untungnya aku bisa segera menyesuaikan diri. Di sana aku mendapat banyak teman, juga memiliki satu geng yang terdiri dari lima orang. Kami sangat kompak, di sana aku merrasa sangat senang, aku mendapat pengalaman yang tidak aku dapatkan di tanah sendiri. Rasanya asyik sekali seetelah aku menginjak masa-masa kuliah tahun pertama, sesekali aku teringat ibu di rumah. Tiap aku rindu, aku selalu ingin pulang.
Akhirnya aku menjadwalkan untuk pulang kampung. Saat tiba di kampung halaman, aku disambut oleh ibu dan kakak juga keponakan kecilku, tapi tiap aku pulang, selalu diakhiri oleh pertengkaran antara aku dan ibu. Aku jadi berfikir, menyesal pulang, tau begitu aku diam saja di kost. Dan tiap pulang kampung selalu begitu, aku jadi malas dan selalu meyakinkan diri, gak papalah gak pulang, toh di rumah ada kakak yang bisa jagain ibu.
Hari, minggu dan bulan pun berlalu, tidak terasa aku sudah menginjak masa satu tahun kuliah. Libur semester genap pun tiba, aku pulang kampung ke Bandung. Saat melihat kondisi ibu yang semakin parah, aku jadi terenyuh dan mulai menimbang untuk berhenti kuliah saja atau setidaknya mengambil cuti untuk fokus merawatnya. Hari-hari liburanku dihabiskan untuk menemani ibu keluar masuk rumah sakit. Aku jadi terbiasa suasana rumah sakit, bau rumah sakit, hafal piket dokter dan lain sebagainya.
Pada saat itu, ibu masih tinggal disalah seorang kakak, tiba-tiba dia berkata “Mira, ibu rindu rumah. Ibu ingin pulang, ibu tidak betah. Kamu kan lagi libur, sementara kita pulang dulu. Lagipula ibu ingin meningal di sana.” “hush, ibu ngomong apa sih. Gak usah ngomong gitu”. Demi membuat ibu senang, akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah. Setelah satu tahun meninggalkan rumah, rasanya rindu juga.
Hari demi hari, ibu semakin parah. Juga seemakin manja dan sangat membuat jengkel. Tiap ibu menjengkelkan, aku selalu berfikir untuk menyerah dan mengirimnya lagi ke rumah kakak, tapi aku selalu berfikir ulang. Semakin lama akupun jadi sering memarahai ibu, membuat kesal dan jengkel bahkan sering membuat nya menangis dan merasa tak berdaya. Aku sedih saat itu, aku belum bisa berfikir jernih, aku masih selalu bersikap kanak-kanak untuk menghadapinya. Singkat cerita, di hari sabtu, ada kakak nomor 6 dan nomor 3 datang berkunjung, di sana aku merasa manja dan kebetulan saat itu kondisi badanku sedang tidak bagus. Tidak biasanya aku ingin tidur di ranjang bersama ibu sambil memeluknya, sambil memintaa dipijat olehnya. Ketika waktu sudah menunjukan sore, kakakku pamit pulang, tapi tidak biasanya juga ibu meminta mereka untuk menginap. Kakak menolak dengan alasan besok anaknya harus belajar untuk ujian.
Saat malam, aku merasa sakit badan dan tidak enak tidur. Aku mendengar ibu menangis menahan rasa sakit sambil memanggil nama kakak nomor satu. Yang ada difikiranku saat itu hanyalah rasa sakit di badanku, aku memarahi ibu dan tidak berempati padanya. Dia terrus menangis sambil memanggil nama kakak. Sesekali dia membangunkanku untuk buang air besar. Tapi saat aku bangun, selalu tida jadi. Dan itu terrulang sampai beberapa kali di satu malam itu, aku kesal. Sampai subuh tiba, ibu membangunkanku lagi untuk buang air besar, aku membantunya dengan masih disetai rasa kesal, aku pun sempat memarahinya lagi. Namun saat hendak diberrsihkan, ibuku seperti selalu melihat pada satu arah yang sama, aku curiga tapi aku takut untuk mengakui. Setelah selesai dibersihkan, aku melihat ibu seperti sesak sambil terus menatap ke satu arah yang sama, tanpa berkedip. Aku mulai merasa takut dan gemetar, aku terus menyadarkan ibu namun masih saja begitu. Aku takut, aku menangis sambil memeluknya, dan tiba-tiba dia berhenti sesak sambil terus seperti menatap sesuatu. Aku bangunkan dia dan coba menyadarkannya,  sama sekali tak bergeming, aku mulai menangis sambil mencoba meminta bantuan pada tetangga. Saat tetangga mengecek, dia bilang bahwa ibuku sudah tidak ada. Sungguh sangat menyakitkan saat itu, aku menangis tersedu-sedu, sakit hati dan bersalah. Adegan demi adegan di masa saat terakhir aku bersama, terkenang. Aku  menyesal kenapa aku tidak sadar, bahwa sebenarnya itu adalah pesan perpisahan darinya. Dia sempat bertanya, mau di mana aku saat ibu pergi? Mau jadi apa aku setelah lulus kuliah? Dan lain sebagainya.
Setelah kepergian ibu, aku tinggal bersama kakak. Tidak diizinkan untuk tinggal sendiri di rumah peninggalan ibu. Aku selalu melamun dan tiba-tiba menangis. Akhirnya kakakku menyuruh untuk kuliah kembali, karena masih ada waktu untuk membatalkan cuti kuliah, agar aku bisa sedikit terobati dengan adanya kegiatan. Namun aku menolak, aku sudah tidak memiliki gairah untuk kuliah di Sumatera, aku merasa kosong, hampa. Setelah menimbang, aku memutuskan untuk kuliah di salah satu sekolah tinggi agama di Bandung.
Hari pertama masuk, biasa saja, selanjutnya, setelah sekarang satu semester  ku lalui, aku mendapatkan begitu banyak pengalaman, terutama pengalaman hidup. Di sini, aku mulai bisa berfikir jernih, bahwa ternyata hidup memang harus dimasuki rasa pahit, agar aku bisa lebih dewasa, agar aku bisa membedakkan rasa manisnya kehidupan. Sedikit-sedikit, aku mulai mengerti tentang hidup, bahwa hidup hanya akan berpihak pada orang-orang yang positiv, juga aku berfikir mungkin Alloh rindu pada doa-doa ku yang tulus, makanya dia mengirim begitu banyak kesakitan dalam hidup. Alloh ingin menjadikanku makhluk yang indah mempesona. Alloh ingin membangunkanku dari kepahitan hidup dan memberiku petunjuk untuk beranjak. Alloh ingin aku menjadi sebaik-baiknya hamba dan perasaan dan fikiran yang damai tanpa dikotori kegalauan dan kesedihan yang terus-menerus. Juga, Alloh mengirimkan begitu banyak orang baik di dalam hidupku. Alloh memngirimkan orang yang bisa mencintaiku dengan tulus. Karena aku tahu, Alloh mencintaiku. Terimakasih tuhan, Engkau memang sangat baik.
 Dan kamu tahu? Aku menangis saat menulis ini.




                                                                                                                                   











(Bandung, 25 Februari 2018) jam 07.56

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HEI!

Abstrak