Lel4h





”Begitu ceritanya.”
”Pasti sedih ya berada diposisi kamu.” Ucap sang dokter sambil mengusap-usap tanganku.
Aku hanya diam sambil terus sesenggukan lantaran terlalu emosional saat menceritakan segala perih dan luka.
“Kamu kesini dengan siapa?”
“Teman.”
“Naik apa?”
“Gojek.”
“Minggu depan kamu kesini lagi ya. Untuk pendiagnosaan selanjutnya. Di hari dan jam yang sama.”
“Baik, dok. Terimakasih.”
Aku keluar ruangan dengan mata sembab. Mira hanya melihatku dengan iba, tanpa banyak bertanya atau bicara.
***
Perkenalkan, aku Sasha. Orang terdekatku terkadang menyebutku micin. Karena namaku jika diucapkan terdengar seperti salah satu merk bumbu dapur. Aku adalah orang yang selalu ceria, positif dan semangat. Orang-orang menyukaiku. Dan mereka menyebut hidupku sempurna.Tapi tanpa mereka tahhu, aku selalu menangis di malam hari. Tangisan yang tanpa diketahui siapa dan apa penyebabnya.



“Pagi semua.” Senyumku mekar
Tiba-tiba seseorang menarikku ke belakang. Mendudukanku dan bercerita panjang lebar tentang masalahnya.
Begitulah rutinitas sehari-hari seorang Sasha, menjadi konsultan untuk teman-temannya.
Bagiku, begitu mnyenangkan menjadi seseorang yang banyak tahu tentang masalah orang lain. Itu membuatku menjadi orang yang banyak bersyukur, bahwa hidup tidak melulu soal tertawa dan bahagia. Ada waktu di mana seseorang harus ditempa musibah dan masalah, agar dia faham bahwa hidup adalah tentang berjuang. Bahwa hidup itu bergiliran. Ada masa kita berada di bawah. Pada masa ini, hidup diuji dengan keterpurukan. Mungkin Tuhan ingin tahu seberapa banyak hambanya memasrahkan diri pada Nya. Dan ada masa kita berada di atas. Pada masa ini, hidup diuji dengan suatu kesenangan. Mungkin Tuhan ingin tahu seberapa bersyukur hamba pada Nya.
Lagipula, itu bisa jadi nilai plus jika suatu hari nanti aku menjadi seorang Psikolog sungguhan.
***

Bersambung ....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HEI!

Abstrak