Mencintai Diri Sendiri?
Mencintai diri sendiri?
Sering ku dengar istilah itu, berterbangan di media sosial.
Kadang sering kuucapkan sendiri istilah tersebut, untuk
menguatkan diri sendiri juga orang yang kebetulan mendengarnya dari mulutku.
Namun, perasaan galau pernah hinggap di bagian atas tubuhku, memberi sebuah pertanyaan yang jawabannya masih aku bingungkan. Apa aku sudah melakukannya dengan benar?
Apa aku sudah mencintai diriku sendiri secara sempurna?
Sudah mampukah aku berdamai dengan hal-hal yang membuatku
merasa ‘kurang’?
Sudahkah aku memberi kepercayaan pada diriku sendiri?
Terkadang, aku masih sempat terluka oleh hal-hal kecil.
Aku masih memberi ruang diri untuk melukai dirinya sendiri
dengan cara mengizinkan ‘sampah’ untuk masuk ke dalam pikiran.
Terkadang, aku masih ‘mengizinkan’ orang lain untuk
mengendalikan kebahagiaanku.
Terkadang, aku masih merasa ‘kecil’ saat berhadapan dengan
seseorang yang menurutku ‘besar’.
Terkadang, aku masih menginginkan untuk menjadi seseorang yang lain.
Terkadang, aku masih melirik kiri dan kanan. Berdecak kagum
pada mereka yang sudah mampu ini dan itu, yang sudah punya ini dan itu.
Sedang aku masih berjalan di tempat tanpa kemajuan yang
lebih.
Juga masalah yang aku hadapi hanya berputar melulu soal yang
sama.
Aku pernah mendengar, jika seseorang terus diuji dengan
masalah yang sama secara berulang terus-menerus. Artinya, dia belum lulus dari
ujian tersebut.
Terkadang, aku masih belum bijaksana ketika harus berhadapan
dengan satu perkara bernama masalah.
Mencintai diri sendiri?
Bagaimana?
Mungkin, aku kira. Mencintai diri sendiri adalah kamu
berdamai dengan dirimu sendiri.
Berdamai dengan apa yang menurutmu kurang.
Berdamai dengan kekhawatiran
Berdamai dengan pikiran berlebih.
Berdamai dengan segala luka dan duka.
Lalu memberi kepercayaan untuk dirimu sendiri
Berhenti untuk menjadikan penilaian orang lain sebagai 'Tuhan'
Berhenti untuk membandingkan dirimu dengan makhluk yang lain.
Karena setiap makhluk diberi kelebihan dalam versi yang berbeda-beda.
Mungkin temanmu diberi kelebihan Harta, mungkin sebagian yang lain diberi kelebihan Rupa, mungkin juga sebagian yang lain diberi kelebihan berupa kecerdasan, dan lainnya diberi kelebihan untuk lebih mampu memahami makna-makna kehidupan.
Kenapa harus menyesal menjadi diri sendiri?
Ayolah, tidak ada makhluk di bumi yang hidupnya sangat sempurna.
Bisa jadi, seseorang yang kamu anggap sempurna sebenarnya dia menyimpan lebih banyak duka yang tidak dia ceritakan pada siapapun.
Lalu memberi kepercayaan untuk dirimu sendiri
Berhenti untuk menjadikan penilaian orang lain sebagai 'Tuhan'
Berhenti untuk membandingkan dirimu dengan makhluk yang lain.
Karena setiap makhluk diberi kelebihan dalam versi yang berbeda-beda.
Mungkin temanmu diberi kelebihan Harta, mungkin sebagian yang lain diberi kelebihan Rupa, mungkin juga sebagian yang lain diberi kelebihan berupa kecerdasan, dan lainnya diberi kelebihan untuk lebih mampu memahami makna-makna kehidupan.
Kenapa harus menyesal menjadi diri sendiri?
Ayolah, tidak ada makhluk di bumi yang hidupnya sangat sempurna.
Bisa jadi, seseorang yang kamu anggap sempurna sebenarnya dia menyimpan lebih banyak duka yang tidak dia ceritakan pada siapapun.
Berdamailah, dengan bersyukur atas hal kecil yang sebelumnya pernah kamu sepelakan.
Cintai dirimu. Cintai takdirmu
Selamat mencintai dirimu yang indah
Selamat menempuh banyak keajaiban dan keindahan hidup, setelah
kamu mengenal diri dan mencintainya setulus hati.

Instpirratif, terima kasih atas tulisannya yang bermanfaat mbak :)
BalasHapusLuarbiasa syekali
BalasHapusIzin repost kaka 🤙