Bapak



 Aku tidak sempat bertanya tentang apa yang kamu rasa, tentang apa yang pernah kamu alami di masa lalu. Mungkin, ada luka yang Bapak simpan lalu bimbang untuk bagaimana mengutarakan dan mengekspresikan luka itu dengan baik.
Mungkin, yang Bapak bisa saat itu hanya menyalurkan luka dengan berpikir sedikit egois dan keras kepala, hingga tanpa sadar meneruskan luka tersebut pada sekitar, terkhusus Makhluk yang sebenarnya Bapak kasihi yaitu pasangan dan anak-anak.
Aku ingin tahu, seberapa dalam luka itu, Pak? Seandainya aku tidak terlambat tahu, aku ingin menyembuhkan luka itu, dengan satu hal paling indah bernama cinta, yang sebenarnya akupun masih meraba, apa itu cinta? Karena seperti yang Bapak tahu, ‘cinta pertama’ku pernah melukaiku.  Tapi jangan khawatir, aku bisa belajar. Belajar memberi cinta tanpa menginginkan untuk mendapatkan nya kembali. Karena aku tahu, akan ada selalu cinta untuk orang yang tulus mencinta.
Sekarang aku paham, selama ini hatimu kosong, kering dan sepi. Jadi, hanya dengan marah kamu berekspresi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HEI!

Abstrak